Tampilkan postingan dengan label radiokatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label radiokatif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

Nuklir Fukushima: Radiasi Ditemukan pada Ikan Tuna

Wahington, Selasa --- Radiasi nuklir tingkat rendah dari PLTN Fukushima yang rusak oleh tsunami telah terdeteksi pada ikan tuna sirip biru di lepas pantai California, Amerika Serikat. Hal itu menunjukkan bahwa ikan-ikan itu membawa bahan radioaktif melintasi Samudra Pasifik lebih cepat daripada angin dan air.
   Sejumlah kecil Cesium-137 dan Cesium-134 terdeteksi pada ikan tuna yang ditangkap dekat San Diego pada Agustus 2011. Ikan ditangkap hanya empat bulan setelah zat radioaktif itu terlepas ke perairan lepas pantai timur Jepang.
   Ikan itu tiba di pantai Barat AS berbulan-bulan lebih cepat dibandingkan dengan angin dan arus laut yang membawa puing-puing dari PLTN itu ke perairan lepas pantai Alaska dan kawasan Pasifik di Barat laut AS.
   "Terus terang kami terkejut," kata Nicholas Fisher, salah seorang peneliti yang melaporkan temuan itu di jurnal Laporan Akademi Nasional Ilmu Pengetahuan AS, yang diunggah ke internet, Senin (28/5).
   Tingkat radioaktivitas cesium itu 10 kali lebih tinggi dibanding dengan jumlah yang diukur pada ikan tuna di lepas pantai California tahun-tahun sebelumnya. Namun, hal itu masih jauh di bawah batas aman untuk dimakan seperti yang ditetapkan oleh pemerintah AS dan Jepang.
   Tanpa membuat penilaian yang definitif mengenai amannya ikan itu, penulis utama kajian itu, Daniel Madigan dari Stasiun Laut Hopkins Universitas Stanford, mengatakan jumlah bahan radioaktif yang terdeteksi jauh di bawah batas aman Jepang.
   Sebelumnya, plankton dan ikan-ikan lebih kecil ditemukan dengan tingkat radiasi yang naik di perairan Jepang setelah gempa Maret 2011 menyebabkan tsunami dan merusak reaktor PLTN Fukushima Dai-ichi.
   Namun, para ilmuwan tidak memperkirakan radiasi nuklir itu akan tetap berada di ikan besar yang merenangi samudra. Metabolisme tubuh ikan semacam itu bisa membuang bahan-bahan radioaktif.
   Pacific bluefin tuna atau tuna sirip biru Pasifik adalah ikan yang bisa mencapai panjang 3 meter dan berat lebih dari 450 kilogram. Ikan ini bertelur di lepas pantai Jepang, dan berenang cepat ke Timut dalam kawanan menuju perairan lepas pantai California dan ujung Baja California, Meksiko.
   Dari ukuran ikan yang diperiksa -sekitar 6 kg- para peneliti yakin itu adalah ikan muda yang meninggalkan perairan Jepang sekitar sebulan setelah tragedi Fukushima.
   Untuk mengetahui bagaimana radioaktivitas mempengaruhi populasi tuna, musim panas ini para peneliti akan mengulangi kajian dengan jumlah sampel yang lebih besar. Tuna yang akan diteliti telah berada dalam perairan radioaktif untuk masa yang lebih lama dari sebulan. (AP/REUTERS/DI)

Sumber : Kompas, 30 Mei 2012, hal 10.

Minggu, 27 Maret 2011

Ancaman Radiasi pada Makanan

Oleh : Posman Sibuea
Ledakan reaktor nuklir Fukushima tidak hanya membuat rakyat Jepang ketakutan. Berbagai bangsa pun cemas berlipat-lipat.
Pasalnya, efek radiasi yang ditimbulkan berdampak buruk pada kesehatan, apalagi radiasi diduga telah menyebar pula ke bahan makanan.
Dari sejumlah pemberitaan diketahui bahwa level radiasi di sekitar lokasi ledakan PLTN Fukushima telah berada di atas normal. Konsekuensi yang mungkin muncul adalah dampak negatif terhadap tubuh manusia.
Pertanyaannya, apakah radiasi nuklir tersebut serta-merta mengontaminasi makanan, terutama yang dikemas dan beredar ke berbagai negara? Apakah produk makanan kemasan yang terkena radiasi aman dikonsumsi?
Jaminan keamanan
Sejumlah produk makanan segar, seperti susu, bayam, dan air keran yang bisa langsung dikonsumsi yang diproduksi tidak jauh dari reaktor nuklir, memang dilaporkan tercemar radiasi di atas ambang batas. Meski demikian, Pemerintah Jepang telah memberikan jaminan keamanan. Level dosis di atas normal tidak berarti produk makanan yang terkontaminasi itu langsung memicu kematian jika dikonsumsi kecuali jika dikonsumsi secara berlebihan dan secara terus-menerus dalam waktu lama.
Pemerintah patut belajar dari cara Jepang menenangkan warganya dengan bertindak cepat untuk menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan. Kantor berita AFP pada hari Jumat (18/3/2011) melaporkan, Pemerintah Jepang langsung menguji produk susu dan bayam serta mengkaji bagaimana produk makanan tersebut didistribusikan.
Meski demikian, jaminan keamanan tidak serta-merta meredam kepanikan warga dunia. Meski secara resmi Pemerintah Jepang telah melarang penjualan produk makanan yang dihasilkan dari wilayah di sekitar reaktor Fukushima, temuan radiasi pada produk makanan malah semakin menambah kekhawatiran terhadap dampak darurat nuklir.
Masyarakat Indonesia pun ikut panik, apalagi banyak informasi bohong beredar di internet. Namun, pemerintah menjamin, jika fasilitas produksi bahan pangan itu berada dalam radius bahaya radiasi, produk impor itu tidak akan diterima Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Sebenarnya, kepanikan ini mengingkari sifat alamiah manusia yang bisa hidup bersama radiasi, yang artinya adalah proses hantaran energi yang luas. Radiasi bisa berasal dari sinar matahari yang mendukung kehidupan dan hidup manusia. Setiap saat permukaan Bumi terpapar radiasi sinar kosmis yang terdiri dari gelombang elektromagnetik serta ratusan jenis partikel dan mineral radioaktif yang terlarut dalam air dan udara.
Jadi, tanpa kehadiran reaktor nuklir pun kita tidak bebas dari paparan radiasi radioaktif. Ketika teknologi kian canggih, ada radiasi buatan yang muncul dari berbagai peralatan modern, seperti sinar X pada peralatan medis, televisi, monitor komputer.
Tidak seperti sinar matahari yang dapat kita rasakan, paparan radiasi tidak terasa. Efek radiasi bersifat tidak langsung, bisa berminggu kemudian baru muncul gejalanya, bergantung material radioaktif yang dilepas dan durasi paparan. Level paparan yang tinggi menyebabkan sindrom radiasi akut, bahkan kematian. Gejalanya, mual, muntah, kelelahan, rambut rontok, dan diare.
Efeknya pada makanan
Meskipun produksi susu dari peternakan di Fukushima, sekitar 30 km dari lokasi PLTN, dilaporkan tercemar radiasi, hingga kini belum ada laporan makanan kemasan tercemar radiasi.
Kecemasan berlebihan terhadap cemaran radiasi pada makanan kemasan ini bisa berdampak buruk terhadap teknologi pengawetan makanan dengan iradiasi (food irradiation).
Josephson (1983) dalam tulisannya ”An Historical Review of Food Irradiation” di Journal of Food Safety menyebutkan penggunaan radiasi gamma untuk mengawetkan makanan dengan dosis di atas 10 kGy (kilogrey) sudah berlangsung pada produk pangan kemasan.
Meski Codex Alimentarius Commission tahun 2003 sudah menyatakan iradiasi pada bahan pangan di atas dosis 10 kGy dibolehkan, Pemerintah Indonesia tetap mensyaratkan uji keamanan pangan apabila produk itu akan dikomersialkan dan dikonsumsi masyarakat.
Di sejumlah negara maju, pasien yang baru selesai menjalani operasi—karena daya imun tubuh masih rendah dan diisolasi dari kondisi normal—direkomendasikan mengonsumsi makanan bergizi tinggi yang disterilkan dengan berbagai teknik, termasuk radiasi.
Makanan siap saji bergizi tinggi dalam kemasan laminasi yang disterilkan dengan teknik radiasi dosis tinggi 45 kGy dan dikombinasikan dengan suhu rendah dapat diterapkan untuk memenuhi keperluan asupan gizi tersebut.
Sejauh ini, penelitian di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia telah mengembangkan teknik iradiasi pada biji-bijian dan produk olahannya, buah-buahan, daging, pepes ikan mas, dan lain-lain. Hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan guna meningkatkan kualitas higiene dan daya awet bahan pangan.
Posman Sibuea Guru Besar di Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Unika Santo Thomas Medan; Direktur Center for National Food Security Research (Tenfoser)
(Sumber : Kompas, 23 Maret 2011)