Tampilkan postingan dengan label 12 Bisnis Berwawasan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 12 Bisnis Berwawasan Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Penilaian Proper: KLH Permudah Perizinan

Jakarta, Kompas --- Kementerian Lingkungan Hidup memudahkan sejumlah perizinan dan rekomendasi sektor swasta yang punya s penanggung jawab usaha menerapkan sistem manajemen pengelolaan lingkungan. Kemudahan ini agar para penanggung jawab usaha menerapakan prinsip bisnis minim polutan.
   Syaratnya, perusahaan peringkat emas dan hijau dalam penilaian proper. Emas dan hijau untuk perusahaan dengan sistem pengelolaan lingkungan baik dan bermanfaat bagi sekitar.
   "Insenstif barupa permohonan perizinan kami permudah. Tak perlu verifikasi lapangan," kata Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, di jakarta, Rabu (13/6) lalu.
   KLH juga memberi rekomendasi agar perusahaan mperoleh keringanan bunga bank. Menteri juga meminta kementerian/instansi tertentu memberi pembebasan pajak impor barang/teknologi yang bermanfaat bagi lingkungan.
   Kemudahan atau dukungan KLH belum bagi perusahaan berstatus biru, merah, dan hitam.
   "Peringkat biru belum dinilai sistem manajemen lingkungannya, jadi belum yakin sistemnya jalan," kata Asisten Deputi Pertambangan, Energi dan Migas KLH Sigit Reliantoro.
   Beberapa perizinan yang dipermudah adalah izin pembuangan limbah cair, pengelolaan limbah B3, dan rekomendasi ekspor-impor bahan kimia. Itu bisa didapat melalui layanan satu atap KLH. (ICH)

Sumber: Kompas, 16 Juni 2012, hal 12

Minggu, 10 Juni 2012

Produk Ramah Lingkungan: Produsen dan Eksportir agar Berkompetisi

Kazan, Kompas --- Pemerintah Indonesia mendorong produsen dan eksportir berkompetisi menghadapi pasar global. Ini penting karena pemerintah bersikukuh tak mengeluarkan labelisasi pada produk dagang ramah lingkungan atau environmental goods atau EG.
   Demikian ungkapan Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Imam Pambagyo di sela-sela Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) Meeting of Ministers Responsible for Trade (MRT) 2012 di Kazan, Rusia, Senin (4/6) seperti dilaporkan wartawan Kompas Agnes Swetta Pandia. Indonesia diwakili Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti.
   Terdapat dua kelompok labelisasi pada produk dagang ramah lingkungan: mendukung sepenuh hati, dan kelompok yang berat untuk menerapkan. Indonesia salah satu negara yang belum mengeluarkan kebijakan EG.
   Kelompok yang siap produk ramah lingkungan berasal dari negara yang memiliki koordinasi internal relatif baik. Mereka diperkirakan mampu meraup keuntungan ekonomi dengan disahkannya daftar EG pada produk dagang. Sementara negara yang kurang siap khawatir perlabelan berdampak negatuf bagi ekonomi dalam negeri.
   Hingga akhir Mei 2012, 13 dari 21 anggota APEC telah menyerahkan daftar produk ramah lingkungan untuk dikompilasi oleh Friends of the Chairs EG APEC menjadi sekitar 300 produk. Umumnya negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Hongkong dan Rusia. Empat negara ASEAN melakukannya, yakni Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei. Sementara Indonesia, bersama Vietnam dan Filipina, belum menyetor produk dagang.
   Indonesia ingin memnberi kesempatan kepada produsen dan eksportir untuk menyiapkan diri lebih baik. "Sambil menyiapkan pengusaha, pemerintah akan terus berkonsolidasi internal mematangkan daftar EG dari Indonesia. Sebab, sangat diharapkan EG benar-benar memperhatikan aspek lingkungan, bukan melulu menonjolkan aspek dagang,: ujar Imam.
   Menurut dia, Indonesia punya banyak produk yang ramah lingkungan, baik dalam bentuk sederhana maupun tradisional, hingga diolah dengan teknologi tinggi. Persoalannya, pada forum APEC seperti ini, belum terdapat kejelasan menyangkut kriteria produk dagang yang bisa masuk dalam daftar EG. (ETA)

Sumber: Kompas, 5 Juni 2012, hal 13

Jumat, 27 April 2012

ADES - Kemasan Baru Ramah Lingkungan

Peluncuran AdeS baru dari The Coca-Cola Company ini menampilkan AdeS sebagai air minum dalam kemasan yang Murni, Aman dan Terpercaya, yang dijamin oleh The Coca-Cola Company.

Botol Ades 600 ml memakai bahan plastik yang lebih sedikit sehingga mudah diremukkan. Dengan volume botol kosong yang lebih kecil setelah diremukkan, maka akan menghemat ruang di tempat sampah. Dan selanjutnya juga menghasilkan jejak emisi karbon yang lebih kecil saat sampah tersebut diangkut.
Dengan tampilan baru ini, Ades memiliki misi mulia untuk menjadikan Indonesia lebih baik melalui tindakan sederhana untuk lingkungan.

Langkah kecil memberikan perubahan :

1.Pilih
Air mineral berkualitas dari The Coca-Cola Company

2.Minum
Nikmati teguk demi teguk kesegarannya

3.Remukkan
Botol yang diremukkan memakai lebih sedikit ruang

Ades ingin menyasar para generasi muda yang memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan, terbuka terhadap peluang baru, dan siap mewujudkannya dalam tindakan nyata. Harapannya, mereka juga lebih kritis dalam membeli produk yang akan dikonsumsi.

Kemasan yang tersedia :
PET : 350 ml, 600 ml, 1500 ml

Sumber: http://coca-colaamatil.co.id/products/index/40.46.107/ades

Minggu, 15 April 2012

BBIPK siap sertifikasi ekolabel kantong plastik

   Balai Besar Industri Pulp dan Kertas akan memperluas layanan sertifikasi ekolabel produk kantong plastik setelah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).
   "Setelah mendapatkan akreditasi dari KAN, kami bisa memberikan sertifikasi produk kantong plastik. Selain pulp dan kertas, kami akan perluas layanan untuk sertifikasi kantong plastik." kata Ngakan Timur Antara, Kepala Balai Besar Industri Pulp dan Kertas (BBIPK), pekan lalu.
   Dia menjelaskan peraturan memungkinkan BBIPK mendapatkan akreditasi sebagai lembaga ekolabel untuk produk kantong plastik, sepanjang memiliki tenaga ahli dan laboratorium pengujian.
   Menurutnya, setelah diakreditasi oleh KAN, BBIPK merupakan satu-satunya lembaga sertifikasi ekolabel yang dapat melakukan sertifikasi produk kemasan plastik, selain produk kertas dan pulp. (Bisnis/BAS)

Sumber: Bisnis Indonesia 26/03/2012